https://kabarpetang.com/ Gerhana matahari dan bulan selalu mengundang kekaguman. Tapi di beberapa daerah di Indonesia, gerhana bukan hanya fenomena astronomi — ia juga membawa serta aroma dapur yang khas. Ada makanan tertentu yang hanya disiapkan dan dikonsumsi saat gerhana, diwariskan dari kepercayaan dan tradisi leluhur.
Meski tidak semua orang Indonesia menjalankan tradisi ini, namun di komunitas-komunitas tertentu, gerhana adalah momen langka yang menandai waktu untuk memasak hidangan yang tidak dibuat di waktu lain.
Apa saja kuliner-kuliner ini? Apa makna di baliknya?
1. Bubur Gerhana – Jawa Tengah & Jawa Timur
Di beberapa wilayah pedesaan Jawa, khususnya di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan sebagian daerah di Jawa Timur, dikenal tradisi membuat bubur gerhana saat terjadi gerhana bulan.
Ciri khas:
- Bubur terbuat dari beras putih dan diberi pewarna alami hitam (biasanya dari abu merang atau ketan hitam).
- Disajikan tanpa lauk, namun dibumbui rempah sederhana.
- Diberikan kepada tetangga atau disedekahkan ke anak-anak.
Makna:
Bubur putih melambangkan cahaya bulan, sedangkan warna hitam melambangkan bayangan bumi saat menutupi bulan. Bubur ini adalah simbol keharmonisan kosmis, serta sebagai bentuk syukur karena gerhana sudah “selesai” dan bulan kembali muncul.
2. Apem Gerhana – Sunda (Jawa Barat)
Di beberapa desa di Jawa Barat, terutama yang masih memegang teguh adat Sunda Buhun, gerhana bulan dirayakan dengan membuat kue apem.
Apem adalah kue dari tepung beras dan tape yang difermentasi, dikukus atau dibakar di tungku tradisional. Namun pada saat gerhana, apem dibuat dengan ukuran lebih kecil dan diberi bentuk bundar penuh, menyerupai bulan.
Tradisi unik:
- Diberikan ke anak-anak yang ikut sholat gerhana.
- Sebagian diletakkan di luar rumah untuk “disambut oleh cahaya bulan kembali”.
Filosofi:
Apem berasal dari kata afwan dalam bahasa Arab, yang berarti maaf. Tradisi ini sering disertai doa bersama, memohon ampunan dari Tuhan, karena gerhana sering dianggap sebagai pengingat akan kebesaran-Nya.
3. Ketan Gerhana – Minangkabau (Sumatera Barat)
Di beberapa kampung adat Minangkabau, saat gerhana (khususnya bulan), masyarakat memasak ketan hitam yang dibungkus daun pisang dan dibakar.
Cara penyajian:
- Dibalut dengan parutan kelapa yang telah digarami.
- Dihidangkan bersama kopi pahit, sebagai sajian setelah sholat gerhana.
Tujuan:
Ketan yang lengket menjadi simbol harapan agar komunitas tetap erat bersatu, dan rasa asin-gurih mencerminkan hidup yang tetap harus dijalani meski terjadi perubahan atau “kegelapan” sesaat.
4. Kolak Gerhana – Madura
Di Madura, ada tradisi membuat kolak khusus saat gerhana terjadi. Kolak ini berbeda dari kolak biasa yang biasa hadir saat Ramadhan.
Ciri khas:
- Menggunakan pisang raja, ubi kuning, dan labu parang.
- Direbus dalam santan encer, tanpa gula berlebih.
- Tidak menggunakan kayu manis, tapi diberi sedikit garam.
Makna:
Kolak ini adalah simbol keseimbangan antara manis dan asin — terang dan gelap. Warga Madura percaya bahwa gerhana bukan pertanda buruk, melainkan momen untuk merenung dan menyeimbangkan diri.
5. Nasi Gurih Gerhana – Aceh
Di sebagian kecil kampung tradisional di Aceh Besar dan Pidie, gerhana bulan dirayakan dengan memasak nasi gurih (mirip nasi uduk), tetapi dimasak malam hari dan disantap setelah sholat gerhana.
Tradisi:
- Nasi disajikan dengan sambal kelapa dan telur rebus.
- Disantap bersama keluarga besar dalam satu nampan.
Nilai budaya:
Bersatu dalam satu nampan melambangkan persatuan saat menghadapi “kegelapan bersama”, dan nasi gurih menjadi lambang berkah yang tetap datang walau alam berubah sesaat.
6. Larangan Makan Tertentu
Menariknya, selain kuliner khusus, ada juga pantangan makanan saat gerhana di beberapa daerah. Misalnya:
- Di Bali: Sebagian umat Hindu menghindari makan sama sekali saat gerhana, karena dipercaya saat itu bumi sedang dalam ketidakseimbangan energi.
- Di Kalimantan: Ibu hamil tidak boleh makan makanan yang berbentuk bulat atau lonjong selama gerhana, karena dikhawatirkan memengaruhi bentuk janin. Makanan seperti telur rebus, pisang, dan bakpao jadi pantangan sesaat.
Tradisi ini tentu berbasis kepercayaan turun-temurun dan tidak didasarkan pada ilmu medis, tetapi tetap dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
7. Gerhana dan Makanan sebagai Media Edukasi Budaya
Meski secara ilmiah gerhana sudah dipahami sebagai fenomena astronomi biasa, namun kuliner-kuliner ini mengandung fungsi sosial dan edukatif:
- Mengajarkan generasi muda untuk menghormati alam dan perubahan yang terjadi.
- Menjaga solidaritas dan kebersamaan dalam komunitas.
- Menjadi pengingat bahwa alam semesta penuh misteri dan layak dihormati.
Beberapa komunitas bahkan mulai mendokumentasikan resep-resep gerhana agar tidak punah dimakan zaman. Sekolah-sekolah adat juga mulai mengajarkan anak-anak tentang kuliner langit ini sebagai bagian dari pembelajaran lintas ilmu: dari sains, etika, hingga sejarah.
Penutup
Gerhana bukan hanya tontonan langit. Bagi banyak komunitas di Indonesia, gerhana adalah peristiwa spiritual, sosial, dan kuliner. Makanan yang hanya muncul saat gerhana menjadi saksi hidup betapa manusia selalu mencari makna, bahkan dalam gelap sesaat yang menutupi bulan atau matahari.
Dalam setiap suapan bubur, kolak, atau apem, tersimpan doa, kepercayaan, dan harapan akan keseimbangan hidup. Dan seperti gerhana, kuliner ini datang sesaat lalu menghilang — hingga semesta kembali mempertemukan langit dan bumi dalam bayangan yang indah.
Baca juga https://angginews.com/












